Ambigu Kemajuan dalam Berpakaian

Setelah menyelesaikan jenjang belajar di bangku sekolah, waktuku banyak kujalani dengan berjauhan dari orang tua, merantau di ibukota provinsi guna menuntut ilmu lebih dalam lagi. Jaraknya tidak begitu jauh dari kota tempat asalku, namun banyak hal yang menonjol dan berbeda dari tempat asalku. Salah satunya adalah cara berpakaian.

Awalnnya memang silau. Kusangka inilah indikasi dari suatu kemajuan, yaitu pakaian yang buka-bukaan yang sering dipamerkan plus dikampanyekan bangsa barat yang sering kulihat di TV. Karena alasan dominasi cara berpakaian anak muda yang mirip gaya kaum elit dan selebritas ini juga kupikir pantas kiranya kota tempatku merantau menyandang kedudukan sebagai ibokota provinsi, selain alasan kemajuan2 lainnya dibidang pembangunan fisik. Haha….

Paradigma berubah tatkala teman megajakku untuk mengenal Islam hakiki. Rasanya seperti mencungkirbalikkan pikiran. Kemajuan yang kusangka ternyata hakikatnya adalah penyakit kemunduran yang akut. Bahkan terburuk dinegeri atau terparah penyakitnya dibanding daerah-daerah yang ada di negeri ini. Bisa saja ini artinya jangkawan pendidikan Islam di tempat rantauanku masih rendah bahkan bisa disimpulkan terendah dari daerah lain, plus cengkraman budaya asing yang begitu kuat dan tidak terproteksi dengan baik sehingga membentuk kondisi lingkungan sedemikian rupa.

Kudapati/kuketahi kondisi sedemikian rupa ini berawal dari rasa penasaranku akan iklim pergaulan pemuda –terkhusus masalah pakaian- di kota-kota metropolitan yang berlokasi di pulau jawa, dimana aku memiliki teman-teman yang merantau kesana. Semua dari mereka mengatakan bahwa cara berpaiakan di tempatku merantau adalah lebih liar daripada kota-kota di daerah Jawa. Padahal ibukota negara saja sudah terlihat liarnya di TV, akan tetapi temanku menyimpulkan di daerah perantauanku dengan penilaian lebih.

Terkait cara berpaiakan, Allah SWT berfirman “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat (TQS al-A’raf [7]: 26)”. Inilah kesempurnaan Islam yang kumengerti, bahkan hal pakaian telah diatur sedemikan rupa. Ini patut disyukuri.

Ayat ini menjelaskan berbagain hal diantaranya: Pakaian merupakan nikmat Allah SWT atas manusia yang wajib disyukuri; Fungsi pakaian yaitu menutup aurat sebagai fungsi pokok dan sebagai perhiasan yang merupakan fungsi tambahan dan pelengkap; Menjelaskan tingkat tertinggi dalam cara berpakaian yaitu dengan berpakaian takwa –baik dalam pengertian hakiki maupun kiasan-. Ayat ini ditutup dengan kalimat “Yang demikian itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” yang menunjukkan bahwa betapa besarnya faidah sekaligus fadhilah-Nya dan kesempurnaan rahmat-Nya dengan adanya pakaian yang dimaksud di atas, serta agar mereka bisa menerima nasihat, lalu menjauhi perbuatan ‘tercela’ (tidak berpakaian). media umat edisi 92, 15 Nopember 2012.

Piont penting yang perlu dipahami adalah apa yang dimaksud dengan berpakaian. Telah diterangkan di atas bahwa yang disebut berpakaian hakikatnya adalah menutup aurat (berdasarkan fungsinya). Dengan demikian kiranya tidak salah apabila pakaian yang dikenakan manusia dikategorikan belum memenuhi kriteria sebagai pakaian yang benar manakala belum menutup aurat. Maka orang yang mengenakan pakaian seperti itu masih terkategori ‘terlanjang’. Rasulullah SAW menyebut mereka sebagai ‘wanita berpakaian tapi terlanjang’. Wanita yang demikian, ditambah lagi dengan sikap yang cenderung maksiat dan mengajak maksiat diancam tidak mencium bau surga.

Menyoroti kondisi umat, memang generasi muda tidak bisa disalahkan secara mutlak. Berkat sistem yang buruk, khususnya sistem pergaulan anak-anak muda tidak lagi mengenal dan memahami apa itu pakaian dan bagaimana berpakaian yang sebenarnya. Dengan sistem pergaualan yang berasaskan liberalime dan sekularisme ini menjauhan pemahaman Islam dari generasi umat Islam itu sendiri. Pemahaman terbalik yang akut telah menggerogoti pikiran pemuda. Berpakaian sempurna dikatakan kemunduran, sebaliknya setengah bahkan hakikatnya terlanjang dikatakan kemajuan, gaul, modern, dan lain-lain. Gejalanya anak-anak muda sangat rapuh untuk memproteksi diri menjauhi kemaksiatan. Indikasinya mulai dari tidak tampak lagi rasa tabu untuk menampilkan keterbukaan, semakin ramainya tempat-tempat hiburan xxx, tingkat ketidak perawanan remaja terus meningkat, bahkan hobi menonton aksi porno oleh anak-anak juga merangkak naik. Itu semua bisa berpangkal dari budaya liar salah satunya kebebasan cara berpakaian. Bagi seorang pria normal, cara berpakaian kaum hawa sangatlah berpengaruh terhadap pikiran2 dan nalurinya. Penampakan berpakaian tidak sempurna diibaratkan telah mengetuk pintu napsu dengan keras lalu membangunkannya dari tempat tidurnya yang empuk. Selama kondisi ini tidak dikontrol, wajar saja kemaksiatan semakin meningkat.

Solusi yang pemerintah sekuler ini tawarkan terkesan melawak semata. Tidak pernah ada aturan di negeri sekuler ini yang secara utuh konsen dengan cara berpakaian (liberal). Malah sebalikanya, banyak aturan dan kebijakan yang lahir hanyalah memperburuk kondisi. Contoh saja, upaya kondomisasi yang diheboh-hebohkan untuk melindungi generasi bangsa sejatinya bukanlah berniat untuk memperbaiki kondisi generasi, malah menggalakkan atau melegalkan kemaksiatan. Ketidakseriusan ini juga diperkuat lagi dengan tidakadanya aturan yang melarang perzinahan dikalangan remaja, hanya dengan pikiran kolot ‘suka-sama-suka’ maka hubungan seks adalah legal atau halal (KUHP). Dan banyak kebijakan-kebijakan lainnya yang hakikatnya tidak layak disebut kebijakan. Hal ini adalah sesuatu yang lumrah/alami terjadi selama aturan dan kebijakan yang dilegalkan tidak bersandar kepada kebenaran hakiki yaitu Allah sang Maha Pengatur dan pencipta. Sebab sejatinya manusia tidak akan pernah tau hal yang baik dan buruk melaikan jika ia bersandar kepada Penciptanya.

Mengenai cara berpakaian ini seorang dosen Muslimah keturunan barat pernah ditanyakan pertanyaan kritis oleh mahasiswanya tentang Islam, terkhusus tentang pakaian muslimah. Kurang lebih pertanyaannya adalah “untuk apa berpakaian demikian (berpakaian menutup aurat dengan sempurna), sedangkan yang demikian itu sudah luput dari zaman (zaman tidak menghendakinya lagi)?” Lalu beliau menjawab “Zaman dahulu manusia diturunkan di bumi dengan keadaan terlanjang, sampai ditemukannya pakaian untuk menutupi kekurangan itu (aurat) sebagai puncak kemajuan pemikiran manusia. Dengan demikian hakikat kemajuan adalah yang saya kenakan ini, bukan malah sebaliknya yang berusaha buka-bukaan meskipun masih malu-malu. Jikalau buka-bukaan adalah suatu bentuk kemajuan, maka hewan adalah makhluk hidup yang paling maju di mukabumi ini”. Inilah salah satu dialog yang menggambarkan wujud terpisah antara pikiran jahiliyan dengan pikiran yang terbebas dari kebodohan. Sejarah telah mengukir zaman jahiliyah lenyap hanya dengan kemunculan Islam dan penerapannya dalam kehidupan (sistem). Dengan demikian berlaku juga sebaliknya, ditinggalkannya dan tidak diterapkannya Islam dalam kehidupan (sistem) telah membangun kembali pondasi-pondari kejahiliahan.

Allah SWT memang telah mengatur segala hal mengenai kehidupan ini, karena Allah SWT Maha Mengatur dan Berkehendak atas nasib makhluknya. Dan hanya Dialah yang tau skenario hidup itu, manusia sama sekali tidak diberika pengetahuan tentang nasibnya. Meskipun demikian skenario hidup milik Allah berbeda (unik) dengan skenario buatan manusia, dimana manusia seyogianya hanyalah dihadapkan dengan pilihan-pilihan tanpa dipaksakan untuk melakoni karakter hero atau antagonis, orang kaya atau orang miskin, beriman atau tidak beriman. Bertolak dengan itu, pilihan apakah yang telah kita tetapkan dalam hidup ini? Memperjuangkan sistem Islam, sekedar mendukung sambil duduk-duduk memonitori tanpa berbuat apa-apa, atau malah menjadi bagian yang memperparah keadaan dengan menghalang-halangi tegaknya Islam, serta ambil bagian menerapkan keburukan-keburukan ini.

pustaka: media umat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s