Dikala Umat Islam Kehilangan Rahmat Miliknya, Konsekuensi logis menerapkan sistem kufur

Dalam menyelesaikan suatu problematika, maka seseorang harus memahami sekaligus menerapkan kaidah kausalitas (sebab-akibat). Ada tiga unsur penting dalam kaidah ini yaitu: Sebab, Gejala, dan Akibat. Unsur “Sebab” merupakan unsur pokok yang harus diteliti dan dicari secara benar wujudnya, sebab unsur inilah inti dari penyelesaian segala problematika. Apabila unsur ini terpecahkan maka masalah (akibat) pun berhenti berkembang.

Dianalogikan kepada keadaan umat muslim sekarang, yang pada hakikatnya merupakan umat terbaik dengan ideologinya yang memberikan keniscayaan rahmat kepada seluruh alam. Akan tetapi yang paling muktahir, umat ini berada dalam pesakitan, tertidas, miskin, bodoh, rakus, dan segala kekurangan lainnya yang seolah-olah mengaburkan, dan menguburkan kebenaran akan jaminan Pencipta bahwa agama ini dekat dengan kesuburan, kucuran, kekayaan rahmatNya.

Fenomena ini memiliki dua kemungkinan, yaitu:

  1. Pencipta yang keliru dalam memberikan jaminan.
  2. Umatnya yang bermasalah.

Kemungkinan yang sahih adalah kemungkinan kedua, sebab makhluk lah yang memiliki segala kekurangan sekaligus manifestasinya yaitu kelalaian. Berbagai spekulasi timbul bahwa kesalahan ini disebabkan akhlak, kemiskinan, dan tingkat kecerdasan/pendidikan. Melihat keadaan yang ada semua spekulasi diatas tidak dapat dijadikan sebab yang akurat, sebab terbantahkan secara fakta. Upaya perbaikan akhlak dari dahulu sampai sekarang terus diupayakan dengan beraneka wasilah, uslub, dan toriqoh beserta kecanggihan teknisnya tidak memberikan signifikasi ke arah kebangkitan. Bahkan kerusakan-kerusakan makin menjadi. Begitu juga dengan sebab lainnya seperti kemiskinan dan pendidikan. Bangsa arab yang memiliki kekayaan melimpah namun tetap bungkam melihat saudaranya di palestina tertindas, bahkan di negerinya sendiri banyak kekacauan internal akibat kesenjangan sosial yang menajam. Di mesir yang merupakan gudang sarjana dan ilmuan, namun kebanyakan dari mereka condong membelakangi ideologi islam dan berkiblat ke dunia barat, dan sebagian yang lainnya hanya memburu title sarjana sebagai eksistensi diri sekaligus pendobrak kasta intelektual untuk mempermudah kualifikasi ditengah sengitnya persaingan dunia pekerjaan. Berarti tidak memberikan sentuhan  kepada kebangkitan agamanya. Itu semua membuktikan bahwa penelusuran akar dari problematikan ini telah gagal menemukan pangkal yang tepat.

Felix Siauw, seorang trainer dan inspirator muda nasional dalam bukunya “BEYOND THE INSPIRATION” memberikan gambaran akan hal ini sekaligus mengupas akar masalah yang sebenarnya. Beliau mengungkapkan bahwa semua sangkaan diatas adalah sebagai gejala dari kerusakan bukan merupakan suatu akibat dari kerusakan. Keadaan generasi yang liberal bukanlah didasari dari kerusakan akhlak, begitu pula dengan pendidikan dan kemiskinan. Semua hal diatas merupakan gejala dari problematika yang ada. Seorang dokter yang bijak tidak akan mengatasi panas dari demamnya seseorang, akan tetapi beliau akan melawan virus yang mengakibatkan panas tersebut. Kerusakan ekonomi gejalanya adalah kemiskinan, kehidupan liberal gejalanya adalah akhlak yang merosot, pendidikan rusak gejalanya adalah kebodohan. “Akibat” tidak bisa diperbaiki dengan merubah “gejala”, akan tetapi dengan mengganti “sebab” yang rusak dengan “sebab” yang benar agar melahirkan “akibat” yang benar pula.

“Sebab” yang sebenarnya adalah karena umat islam meninggalkan panduan hidupnya yaitu “islam” baik secara total maupun sebagian. Aktivitas dalam bingkai sekularisme membuat umat membuang jauh jauh standar yang telah ditetapkan Allah kepada mereka. “Memisahkan agama dari kehidupan” (sekuler) inilah kalimat kunci yang membuka pintu laknat dan menutup rapat-rapat pintu rahmatan lil’alamin. Sebuah sistem rusak dari rahim barat, lahir dan diadopsi sebagai standar ideologis penyelenggaraan kehidupan umat muslim hampir diseluruh wilayah pendudukannya sekarang.

Betapa agung peradaban umat muslim yang sadar akan hakikatnya sebagai makhluk lemah, tidak mempunyai kemampuan untuk mengatur hidupnya sendiri, mengikrakan dengan tulus akan keagungan Ilahi. 13 abad memimpin dengan luas wilayah hampir di 2/3 belahan dunia, menjadi satu-satunya kiblat yang memancarkan keagungan suatu peradaban indah waktu itu. Inilah yang hilang dari umat, konsep berfikir cemerlang yang berharga mahal melebihi pemikiran pemikiran yang dianggap cemerlang lainnya.

Kembalikan kehidupan islam yang kaffah, didalam bingkai kekhilafahan. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Pustaka: Mr. Google, Felix Siauw [beyond the inspiration]
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s