Lantunan Indah di Rumah-Mu, Tatkala takbir hanya dimulut

Image

Setiap perayaan hari besar umat muslim yaitu idul adha dan idul fitri sering memberikan kesan yang berbeda untukku setiap tahunnya. Seiring tumbuhnya seseorang, ia akan berusaha menilai setiap hal, termasuk moment hari besar keagamaan dengan pemikiran yang berkembang pada dirinya. Namun lain halnya terhadap orang yang perkembangan pemikirannya lamban atau terhenti pada satu titik saja, maka dari tahun ke tahun penilaiannya terhadap suatu momen tidak banyak perbedaan yang berarti. Pemikiran membentuk pemahaman, dan pemahaman membentuk tingkahlaku. Buruknya sumber pemikiran, maka pemahaman dan tingkahlakunya juga akan buruk. Maka dari itu untuk menghasilkan pemahaman dan perbuatan atau tingkahlaku yang benar dibutuhkan pemikiran yang benar atas segala sesuatu, yaitu pemikiran Islam. Seperti itulah kira-kira makna dalam tulisan disalah satu buku yang pernah kubaca.

Hal yang luar biasa yang bisa kulihat di negeri ku ini tatkala hari besar itu datang adalah kumandang takbir Allahu Akbar (Allah Maha Besar) sahut menyahut dari mesjid ke mesjid, menggelorakan semangat kemaha besaran Allah SWT atas segala makhlukNya, sekaligus pengakuan akan kekerdilan, kelemahan, ketidak mampuan diri dibanding denganNya.

Namun semangat ini dari tahun ketahun digelorakan tidak lebih hanyalah sebatas retorika belaka. Umat muslim di negeriku terperangap kedalam sistem yang buruk yang menistakan status keislamannya sendiri. Demokrasi-kapitalisme-sekularisme di negeri kaum muslimin terbanyak ini tumbuh sangat subur. Berkembang dan mengakar, menggerogoti setiap kaum muslim bahkan generasinya sekalipun tanpa diberi kesempatan untuk melangkah keluar dan melihat sistem ini dari kejauhan untuk menilai dan memilih sistem yang lain, apalagi mengenal Islam secara mendalam.

Demokrasi merupakan salah unsur pokok yang merusak kaum muslimin. Lahir dari rahim peradaban gelap Eropa, dimana Islam sama sekali tidak ada kaitannya dengan ini. Atau singkatnya demokrasi tidak pernah lahir dari pemahaman ajaran Islam. Sedikit kupasan sejarah mengenai demokrasi. Sistem ini lahir tatkala terjadi kezaliman sistematis yang dilakoni oleh penguasa dan gereja di Eropa, dimana dua pilar kekuasaan umat itu saling bersaing sekaligus juga saling mendukung untuk memanfaatkan kekuasaannya. Kezaliman terhadap rakyat dilakoni terus menerus ditambah lagi dengan dukungan dari gereja yang mengabsahkan kezoliman tersebut. Para ahli ilmu dan peneliti saat itu ibarat macan ompong yang apabila mengaum memaparkan teori-teori ilmiahnya akan ditendang selama tidak mendukung atau bertentangan dengan pemahaman gereja dan kerajaan. Termasuk pengembang dan ahli ilmu tata negara pada saat itu yang melahirkan teori teori yang menentang kerajaan dan gereja, hampir semuanya dibuat dungu bisu. Keadaan (kezoliman) yang berlarut larut ini membuat rakyat pada satu masa pasti menjadi geram, dan akhirnya terjadilah Revolusi sebagai puncaknya. Revolusi yang dimotori oleh para ilmuan -yang pada hakikatnya bermunculan karena kejengkelan terhadap rezim sekaligus penentang sistem- ini memberikan sebuah solusi yang kita kenal saat ini dengan Demokrasi-Sekularisme atau yang sering disebut dengan sistem Kapitalisme. Yaitu suatu sistem yang berakidah pada pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme), dan rakyat memiliki kedaulatan tertinggi atas segala urusan termasuk membuat aturan-aturan yang mengatur hidup umat atau rakyat (demokrasi).

Selanjutnya, apa pengaruh revolusi ini terhadap umat muslim? Ternyata dari tahun ke tahun berkembangnya paham ini, seiring dengan melemahnya generasi muslim akibat agenda pembodohan sistematis yang dijalankan oleh musuh musuh Islam, maka umat muslim tersilaukan. Umat muslim dengan dungunya cenderung menganggap bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik, dan Sistem Pemerintahan Islam terasa telah usang beraroma kuno. Puncaknya dapat disaksikan pada tahun 1924 dimana runtuhnya sistem pemerintahan Islam di Turki (Khilafah) akibat konspirasi yang dilakoni Mustafa Kemal Ataturk dengan penyokongnya negeri barat. Ini jugalah yang sekaligus memotori kehancuran seluruh umat muslim di dunia.

Di negeriku, demokrasi berjalan dengan leluasa. Negara ini merupkan negara pembebek Amerika kelas atas. Bisa dilihat dari undang-undang yang ada, hampir semuanya menykong penuh cengkraman penjajahan negeri barat, terlebih Amerika. Undang-undang migas dirancang oleh IMF, yaitu bank dunia yang diakselerasi oleh Amerika. Undang-undang perguruan tinggi yang membuka pintu masuk para kapitalis, sehingga biaya pendidikan menjulang tinggi dan meningkatkan potensi pekerja buruh yang bisa mereka (kapitalis) kendalikan semaunya. Aturan lainnya yang mereka katakan sebagai solusi, contohnya dengan memberikan solusi kondomisasi, kebebasan, pelegalan miras, persamaan gender dan sebagainya yang justru menimbulkan masalah-masalah akut ditengah-tengah kehidupan umat. Belum lagi rancangan undang-undang hasil kontrak gelap pemerintah dengan  musuh musuh islam seperti RUU Kamnas, dan lain sebagainya. Dan juga kebijakan lainnya  seperti rencana sertifikasi ulama yang katanya sebagai upaya untuk menekan aksi terorisme, padahal secara tidak langsung merupakan pelecehan terhadap ulama (pewaris para nabi) sekaligus Islam itu sendiri. Kebijakan perpanjangan masa kontrak prifot (Amerika-Indonesia) -sampai berpuluh-puluh tahun lamanya- yang merupakan tambang emas negeri, serta tentunya bisa memberikan kesejahteraan umat manusia. Semua solusi yang ditawarkan diatas sama sekali tidak memecahkan masalah, malahan menambah rumit masalah. Angka kemiskinan yang rill semakin tinggi, kriminalitas, dekadensi moral, termasuk juga angka phobia terhadap islam meningkat dan macam ragam kemerosotan lainnya.

Apalagi kalau bukan berakar pada demokrasi, yang mengambil hak Allah SWT dalam menentukan hukum bagi ciptaanNya –manusia-. Demokrasi yang muncul dari kesombongan segolongan umat manusia untuk merasa bisa dan mampu menentukan hal yang baik dan buruk dikehidupan ini. Mereka membuat aturan-aturan mereka sendiri untuk dirinya sendiri, menuhankan manusia satu dengan manusia lainnya, atau menuhankan dirinya sendiri. Akibatnya aturan aturan yang mereka buat seringkali bermasalah dan berbenturan dengan kepentingan masing masing pihak. Mereka khususnya umat muslim lupa bahwa aturan diluar aturan Islam adalah aturan Jahiliah. Mereka lupa bahwa menyembah bukanlah hanya dengan ibadah Mahdoh saja. Menyembah juga berbentuk ketaatan terhadapa aturan hidup yang ditetapkanNya. Sebagaimana zaman jahiliyah dahulu, dimana mereka –kafir jahiliah- yakin akan keberadaan Allah SWT, namun yang mereka sembah adalah materi (patung-patung). Yang mereka patuhi adalah dukun-dukun sekutu iblis, dan perintah para pengusa.

Dan juga sekularisme yang berusaha memisahkan agama dari kehidupan manusia. Menciptakan kondisi yang begitu taat dan kesadaran serta pengakuan sepenuhnya terhadap kekuasaan Allah SWT atas dirinya dan alam semesta ini pada saat ibadah di mesjid misalnya, dan hanya di mesjid saja, atau pada saat ibadah mahdoh saja. Namun tatkala kembali ke aktivitas kehidupan non spiritual, lagi-lagi bermaksiat dan berstandarkan manfaat (kapitalisme), bukan perintah dan laranganNya. Pantaslah kiranya yang dikalamkan Allah SWT, bahwa seandainya suatu negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menurunkan berkah dari langit dan bumi. Namun sebagian besar dari kita –manusia- mendustakan apa yang Allah SWT perintahkan, lalu Allah SWT menghukum kita akibat perbuatan kita sendiri. Dengan demikian segala kenistaan dan pesakita umat manusia, khususnya umat Islam tidak lain adalah hukuman.

Karena itu, semangat takbir yang dikumandangkan setiap hari besar umat muslim, yaitu idul fitri maupun idul adha masih berupa semangat semu dan kumandang retorika belaka. Dibalik itu masih banyak “dusta” umat muslim ini atas kebesaran Allah SWT terhadap dirinya dan alam semesta baik mereka sadari maupun tidak. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s