Napsu Ibarat Bara di Kayu Api

ImageSeseorang lelaki seiring pertambahan umurnya lambat laun akan semakin sadar bahwa hal yang paling sulit ia jaga adalah nalurinya terhadap lawan jenisnya (napsu). Ada ungkapan yang mengatakan napsu  itu ibarat bara di kayu api, hanya memerlukan tiupan angin untuk mengobarkan apinya. Ungkapan di atas adalah menerangkan betapa mudahnya napsu itu tersulut lalu bangkit menguasai diri. Ungkapan di atas juga mengibaratkan napsu itu dengan api, yang mana sifat api itu apabila tidak bisa menjaga besarnya maka ia akan menghanguskan semua.

Ada berbagai faktor yang bisa menyulut kobaran nafsu pria terhadap lawan jenisnya. Beberapa diantaranya yaitu cara berpakaian, cara bertingkahlaku, bahkan ucapan sekalipun. Jika diteliti, maka terdapat perbedaan pandangan antara Islam dengan pemikir barat tentang bagaimana memperlakukan napsu ini. Barat memandang napsu (terhadap lawan jenis) adalah hal lumrah (naluri) yang harus dipenuhi. Jika tidak dipenuhi maka seseorang akan mengalami gangguan terutama kepada kejiwaannya. Oleh sebab itu budaya yang berkembang dan aturan-aturan hidup yang mereka buat terkait penanganan napsu ini bersifat bebas. Artinya tidak ada batasan untuk menyalurkan napsu selama berada di atas prinsip suka sama suka melakukannya.

Alasan diatas sebenarnya tidaklah tepat. Dengan tidak dipenuhinya kebutuhan naluriah ini sebenarnya tidak mengakibatkan gangguan apapun terhadap kinerja fisik manusia. Yang terjadi hanyalah kegelisahan yang sesaat. Oleh sebab itu Islam menghendaki penyalurannya dengan cara yang tidak semena-mena tanpa batas. Islam mengajarkan untuk berada dikondisi yang tepat dalam melangsungkan pemenuhan naluri tertentu. Terkait napsu ini Islam hanya mengehendaki dalam hubungan pernikahan dan hamba sahaya semata.

Islam juga mengajarkan cara melemahkan napsu. Yaitu dengan berpuasa sebagaimana yang Rasulullah saw khabarkan. Dengan melemahnya kondisi fisik diakibatkan tidak makan dan minum selama berpuasa, maka napsu pun ikut melemah dan terkekang untuk bangkit. Tidak hanya itu, berpuasa juga menuntut agar seseorang menahan tubuh, lisan, dan pikirannya dari aktivitas maksiat, termasuk menjaga pandangan. Dengan demikian hakikatnya tidak ada alasan untuk tidak mampu memanajemen kehendak napsu dengan benar.

Fakta dan kondisinya sekarang adalah Islam telah dicabut dari kedudukannya sebagai pengatur kehidupan. Diganti dengan aturan aturan demokrasi. Gejalanya banyak, bisa dilihat dari satistik hasil survey kemerosotan moral remaja yang dilakukan badan-badan terkait. Sebut saja angka ketidak perawanan remaja SMP yang menunjukkan angka diatas 60 persen, cuiman dan peting oral ditingkat SMA yang telah mencapai angka 90 persen, ditambah lagi dengan kecenderungan anak usia sekolah dasar untuk menonton tayangan sex yang terus meningkat dari tahun ketahun. [komnas perlindungan anak 2009]

Seperti apa yang diungkapkan di atas, maka dengan menyaksikan kondisi yang miris ini hendaknya bara di kayu api ini baiknya dikepung dengan tembok agar tidak ada angin yang menyalakan apinya. Artinya sistem yang diterapkan haruslah sistem yang menciptakan kondisi dan lingkungan yang tidak tercemar dari racun-racun pembangkit napsu pembuka maksiat. Mengatasi masalah adalah dengan menemukan ‘akarnya’. Masalah akan tetap ada selama yang diupayakan hanya menambal gejala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s