Statistika atau Fakta? Konsekuensi logis negeri pecandu sistem kapitalis

ImageData BPS menyebutkan pula, semakin banyak penduduk perdesaan yang jatuh miskin. Dalam rentang Maret-September 2011, penduduk miskin di pedesaan bertambah 28.520 orang. Meskipun, lagi-lagi secara persentase mengalami penurunan, dari 56,51 persen pada Maret 2011 menjadi 43,49 persen pada September 2011.

Sedangkan penduduk miskin di perkotaan, jumlahnya berkurang 26.340 orang. Namun dari sisi persentase, turun tipis dibandingkan Maret 2011. Yaitu dari 57,11 persen menjadi 56,51 persen. Kesenjangan penduduk miskin dengan orang tak miskin, baik di perkotaan di perdesaan, tetap curam dengan mencatatkan penurunan tipis persentase. (republika.co.id, 2/1/2012)

Sistematika penghitungan persentase angka kemiskinan yang kurang tepat menghasilkan output data yang bergesekan dengan fakta.

Yang kaya makin kaya. Yang miskin makin miskin. Sehingga devisit persentase angka kemiskinan, yg dikalkulasi dengan hitungan rata-rata tidak mencerminkan fakta di lapangan.

Jumlah pendapatan orang kaya luar biasa besar, menutupi aib negara yaitu pendapatan rakyat miskin yang sangat renda, dan keduanya dirata-ratakan. Akhinya menghasilkan data non faktual untuk dinamakan sbg “Persentase Angka Kemiskinan Indonesia”. Padahal itu sebuah kalkulasi pendapatan perkapita semua penduduk, bukan kalkulasi angka masyarakat miskin dibanding masyarakat mampu. Tidak juga dengan metode sensus, melainkan dengan metode sampel.

Lebih parah lagi nominal standar minimal kebutuhan seluruh penduduk adalah 200 ribuan/bulan/kapita. Jadi jika pendapatan 300 ribu/bulan/kapita maka digolongkan rakyat mampu. Pertanyaannya, mampukah memenuhi kebutuhan dasar keluarga perbulan dengan jumlah yg ditetapkan sedemikian? Sangat tidak manusiawi dan bahkan tidak masuk akal.

Negeri ini sesungguhnya dibutakan dengan angka-angka statistik yang dikoar-koarkan di berbagai forum ekonomi Indonesia. Sistem ekonominya kapitalis berhakikat mensejahterakan oknum, menelantarkan rakyat. Jika memang benar negara ini memiliki falsafah tunggal Pancasila, maka ideologi kapitalis sesungguhnya sangatlah bertentangan dengannya (pancasila). Namun faktanya penerapan ideologi ini apapun kerusakan yang dibawanya tetap ngotot dinilai pancasilais lalu dipertahankan.

pustaka: al-wa’ie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s