Ketua forum perjuangan umat islam poso menilai Kepolisian ‘brutal’ dan malanggengkan terorisme

Ketua forum perjuangan umat islam poso, Adnan Abdurrahman Saleh (Arsal) mengungkapkan penanganan aksi terorisme oleh kepolisian khususnya di poso belakangan ini sejatinya bukanlah memberantas terorisme, sebaliknya melanggengkan terorisme itu sendiri. Pasalnya menurut beliau para tersangka diperlakukan sangat tidak manusiawi dan melanggar prisip-prinsip hukum yang berlaku.
“Brimob memukuli mereka hingga babak belur, ada yang patah tulang rusuknya, ada yang berbiru-biru muka, mata bengkak, jadi babak belur masyarakat. Brimob pun memaki mereka dengan perkataan yang sangat kasar, ‘Kamu ini semua binatang, anjing, babi.’ Merekapun dibawa ke Polres Poso, ditahan tujuh hari, keluarganya tidak boleh menengok.” Ungkap beliau saat dikunjungi wartawan media umat joko prasetyo.

Pria berjanggut putih ini mengatakan aparat kepolisian di poso secara tidak langsung telah memberikan pendidikan yang buruk kepada masyarakat. “Polisi itu penegak hukum tetapi malah melanggar hukum juga.” Kata Arsal.

Arsal tidak hanya mempersoalkan aksi brutal aparat kepolisian terhadap para tersangka terorisme. Akan tetapi Beliau juga mempersoalkan tindakan kepolisian saat dilapangan. “Bayangkan saja 500 orang aparat, satu kompi, sangat bisa mengejar dan menyergap penembak itu, namun tidak disergap. Malah kembali ke desa dan menangkapi warga yang tidak bersalah? Apakah tidak memperpanjang urusan. Jadi saya tidak habis pikir, apa sih maunya aparat dalam menyelesaikan masalah ini.” Ujar pria separuh baya ini.

Beliau menegaskan upaya pemberantasan terorisme oleh aparat kepolisian di daerah poso tersebut sejatinya adalah upaya untuk menjaga atau memperpanjang isu terorisme.

“tindakan brutal ini tidak bisa diterima oleh masyarakat. Lantas bagaimana polisi bisa menanamkan kepercayaan kepada masyarakat kalau polisi –pelindung masyarakat- bila begitu caranya? Inikah cara polisi mendidik masyarakat? Jadi jangan heran kalau masyarakat akan balas dendam juga dengan melakukan tindakan kekerasan kepada polisi, karena polisi mendidik begitu.” Ungkap Arsal.

Disamping itu Arsal menilai tindakan aparat kepolisian tersebut tidak profesional dan sering melanggar prinsip-prinsip hukum yang berlaku. Alasan beliau dikarenakan aparat begitu mudahnya menuduh masyarakat, sehingga sering terjadinya salah tangkap. Demikian juga orang yang masih dalam status tersangka sering di eksekusi (baca:dibunuh) di tempat meskipun tanpa perlawanan. “Polisi itu penegak hukum, bukan hukum! Kalau polisi bertindak tidak sesuai hukum, sama saja dengan penjajah ini!” Tegasnya.

Arsal meminta Kapolri untuk mengusut persoalan ini dengan serius. Menurutnya persoalan ini bukalah lagi persoalan poso, melainkan persoalan negara. “Institusi yang tidak bertanggung jawab di dalam mengelola penanganan negara. Untuk itukah? Maka yang harus dituntut bukan hanya prajuritnya tetapi juga komandannya, termasuk Kapolda Sulawesi Tengah.” Tutur Beliau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s