Menjawab Keraguan Khilafah.08

Pernyataan: Piagam madinah hanya MoU? Bukankah piagam Madinah itu bukti bahwa Nabi mengakui pluralisme?

Untuk memahami hal ini perlu mengkaji realitas Madinah ketika itu. Orang yang jeli akan melihat bahwa penduduk Madinah ada 3 kelompk besar. Pertama, kaum muslim dari kalangan Muhajirin dan Anshor sebagai mayoritas. Kedua, kaum Musyrik dari suku Aus dan Khazraj yang belum menganut Islam, jumlahnya sedikit. Ketiga, kaum Yahudi, satu kelompok di dalam Madinah (Bani Qainuqo) dan tiga kelompok di luar kota Madinah (Bani Nadhir, Yahudi Khaibar, dan Quraizhah). Kaum muslim dari suku Aus dan Khazraj banyak terpengaruh oleh Islam sehingga dari segi pemikiran, perasaan dan aturan banyak tunduk kepada Islam. Pada sisi lain, kaum Yahudi merupakan suatu masyarakat yang memiliki pemikiran, perasaan dan solusi yang sejak awal berbeda dengan Islam. Mereka merupakan masyarakat yang berbeda dengan masyarakat kaum Muslim sekalipun terdapat di Madinah. Dengan kata lain, di Madinah ada dua masyarakat terpisah, yaitu masyarakat Islam (Muhajirinm Anshor dan Musyrik) dan masyarakat Yahudi. Dengan kata lain, dilihat dari sistem negara modern sekarang, di sana ada dua pemerintahan terpisah.

Siapapun yang mengelaborasi Piagam madinah akan melihat bahwa ada dua kategori besar yang diatur di sana. Pertama, aturan yang mengatur internal pemerintahan Rasul. Aturannya berkaitan dengan Muhajirin, Anshor, Musyrik, dan Yahudi yang tunduk pada pemerintahan Rasul. Dan kedua, aturan yang menyangkut hubungan antara pemerintahan Rasul dengan pemerintahan Yahudi. Aturan pertama merupakan aturan dalam negeri dan aturan yang kedua merupakan aturan luar negeri. Piagam Madinah menuliskan secara jelas bahwa semua persoalan dalam hal tersebut harus dikembalikan kepada Muhammad Rasulullah. Beginilah keadaannya! Jadi, bagaimana mungkin Piagam Madinah dipandang sebagai Memorandum of Understanding (MoU) semata?

Pada sisi lain, adanya beranega ragam etnis dan keyakinan di Madinah, dengan tetap rujukan hukumnya adalah nabi SAW justru menunjukkan tidak ada pluralisme (yang memandang kebenaran itu banyak dan relatif). Yang ada adalah pluralitas (keanekaragaman warna kulit, etnis, agama yang tunduk pada suatu aturan negara yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s