Menjawab Keraguan Khilafah.13

Pernyataan: Bukankah khilafah itu telah berhenti dengan terbunuhnya Ali, dan setelah itu menjadi kerajaan?

Pendapat seperti ini didasarkan pada satu alasan, yaitu adanya penunjukkan anak atau saudara oleh kepala negara untuk menjadi penggantinya (seperti kasus Muawiyah). Padahal untuk menyatakan bahwa kekhilafahan telah berganti menjadi kerajaan perlu dipahami tentang kedua sistem tersebut.

Kerajaan dasar paling utamanya adalah hukum berasal dari raja dan suksesi kepemimpinan dengan sistem putera mahkota. Berbeda dengan itu, hukum dalam kekhilafahan berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah, dan suksesi dengan baiat dari rakyat terhadap pemimpin yang dipilihnya. Realitas menunjukkan sepanjang sejarah Islam, hukum yang diambil berasal dari Islam, kecuali di akhir masa kekhilafahan Ustmaniyah ada yang diambil dari Swiss. Begitu juga, sekalipun ada pencalonan dari penguasa lama terhadap seseorang, tapi tetap ujungnya adalah bai’at dari rakyat. Sebagai contoh kasus Yazid bin Mu’awiyah. Awalnya, Yazid ditunjuk oleh Mu’awiyah. Tapi, rakyat menentang dan mengangkat senjata melawannya. Di akhir perjalanannya, ternyata rakyat tetap juga memberikan bai’atnya dengan ridlo dan pilihan. Sekalipun, sebenarnya, penunjukkan tersebut merupakan suatu kesalahan sejarah yang semestinya tidak terjadi dan tidak boleh terulang.

Jelaslah, kekhilafahan tidak pernah berubah menjadi kerajaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s