Konflik Sosial Derifasi Sistem Kapitalisme

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, mengatakan jumlah konflik sosial di tanah air semakin meningkat. Tercatat konflik sosial pada tahun 2010 sebanyak 93 kasus, kemudian menurun pada tahun 2010 menjadi 77 kasus, namun sampai pertengahan agustus tahun 2012 meningkat lagi menjadi 89 kasus (Okezone, 08/11/2012).

Predikat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki citra ramah tamah dan sopan santun tampaknya sudah tergerus oleh perilaku bangsanya sendiri. Bagaimana tidak, bentrokan antar warga bentrokan antar mahasiswa, bentrokan mahasiswa dengan aparat sudah menjadi hal lumrah yang menghiasi pemberitaan di media massa. Bahkan kasus konflik sosial tersebut sampai menelan korban jiwa mencapai 28 korban jiwa dan 200 korban luka serius serta kerugian material dan non material.

Berdasarkan yang diberitakan pada umumnya, konflik sosial yang terjadi di indonesia sebagian besar merupakan konflik sosial yang berlatar belakang SARA (Suku, Agama, Ras & Antar Golongan). Meskipun demikian, faktanya perkara SARA hanyalah bungkus dari pemicu konflik yang sebenarnya. Setidaknya jika dikaji maka ada beberapa hal yang mendasari terjadinya konflik di negeri ini.

  1. Krisis politik dan krisis kepemimpinan baik skala nasional maupun internasional.
  2. Semakin lemahnya peran pemerintah dan aparat keamanan negara
  3. Hukum yang menaungi negara ini tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat (krisis keadilan). Pada akhirnya masyarakat memilih untuk mengambil jalan sendiri dalam menyelesaikannya (ketidak percayaan terhadap hukum).
  4. Asas sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang diterapkan di negeri ini, membuat ketaqwaan masyarakat terkikis dan lama-kelamaan menjauh dari prinsip-prinsip Islam.
  5. Kehidupan kapitalistik yang menimbulkan kesenjangan sosial dan sifat individualisme.
  6. Ikatan masyarakat yang lemah. Pada dasarnya Indonesia telah memiliki cita-cita pemersatu yaitu Bhineka Tunggal Ika. Namun, sayangnya cita-cita itu berusaha diwujudkan dalam ikatan yang rapuh.  Pada kondisi saat ini masyarakat memiliki ikatan tersendiri yang digunakan untuk mengikat mereka, seperti ikatan kesukuan, ikatan kemaslahatan, sampai ikatan yang lebih tinggi tingkatnya, yaitu ikatan nasionalisme. Dengan beragam ikatan tersebut, umat hanya diikat dengan ikatan yang semu, sehingga wajar kita dapati kerukunan yang semu pula.

Dari semua hal tersebut, maka sumber dari segala sumber masalah konflik ini adalah karena diterapkannya sistem kapitalisme di negeri ini. sistem kapitalisme-sekular menyebabkan ketakwaan masyarakat kepada Allah perlahan menghilang. Kontrol dari masyarakat pun bisa dibilang lenyap sama sekali dengan sifat individualismenya. Masyarakat tidak bisa berharap banyak pada hukum sekular yang diterapkan saat ini. Begitu pula dengan ikatan-ikatan lemah buah kapitalisme ini, yang telah menggeser urgensi ikatan hakiki, yaitu aqidah Islam. Juga kesenjangan sosial yang semakin menonjol berkat sistem ekonominya.

Berbeda dengan penerapan sistem Islam yang akan mensinergikan peran individu dengan ketakwaan, kontrol dari masyarakat serta hukum yang berasal dari Allah yang tidak ada kecacatannya. Sistem ekonominya yang menghapus kesenjangan masyarakat. Merekatkan umat dengan ikatan aqidah. Kondisi politik dan kepemimpinan yang terjaga dengan kedaulatan yang jelas dan pasti yaitu syariah.

Reference: al-wai’ie Maret 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s