Seputar Nasionalisme

imagesNasionalisme didefinisikan sebagai kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan serta mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan suatu bangsa, yakni semangat kebangsaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997;648).

Dari sisi lainnya, nasionalisme di pandang sebagai suatu paham untuk menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama. Identitas tersebut dapat berupa kesamaan darah atau keturunan, suku bangsa, daerah tempat tinggal, bahasa, kebudayaan dan sejenisnya (wikipedia).

Sejarah nasionalisme bermula dari benua Eropa sekitar Abad Pertengahan. Gerakan Reformasi Protestan yang dipelopori oleh Martin Lither di Jerman disinyalir sebagai pemici gerakan kebangsaan tersebut dalam pengertian nation-state di Eropa. Saat itu, Luther yang menentang Gereja Katolik Roma menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman dengan menggunakan gaya bahasa yang dapat menumbuhkan rasa kebanggaan sebagai bangsa Jerman. Penerjemahan ini tidak hanya mendobrak hak ekslusif bagi mereka yang menguasai bahasa Latin (seperti para pastor, uskup, dan kardinal sebagai penafsir Injil) namun juga sacara bertahap menghilangkan pengaruh bahasa Latin dari masyarakat Jerman (lihat: Adhiyaksa Dault, Islam dan Nasionalisme, 2005: 4).

Nasionalisme yang tumbuh di Jerman kemudian menjalar secara cepat di dataran Eropa. Hal ini kemudian menyulut persaingan fanatisme antarbangsa di Eropa yang masing-masing berusaha mendominasi lainnya. Pada akhirnya persaingan tersebut melahirkan penjajahan negara-negara Eropa terhadap negeri-negeri di benua Asia, Afrika dan Amerika Latin. Karena sejalan dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi Eropa pada masa itu, mereka bersaing untuk mendapatkan bahan baku produksi dari negeri-negeri lain di luar Eropa. Pandangan pemikiran Itali, Nikolo Machiaveli, yang menganjurkan seorang penguasa untuk melakukan apapun demi menjaga eksistensi kekuasaannya, juga turut ‘menyemangati’ Eropa untuk menggencarkan penjajahannya.

Ben Anderson dalam Imagined Communities menyebutkan bahwa nasionalisme terbentuk dari adanya suatu ilusi akan suatu bangsa mandiri dan bebas dari kekuasaan kolonial; suatu bangsa yang diikat oleh suatu kesatuan media komunikasi, yakni bahasa. Faktor kesamaan bahasa serta kesamaan pengalaman bersama yang ditimbulkan oleh karya-karya sastra menghasilkan suatu Imagined Communities yang didasari oleh perasaan senasib dan sepenanggungan (Anderson, Benedict, Imagined Communities).

 

Corak nasionalisme

Mahatma Gandhi dan pemikir Tiongkok menginspirasi Soekarno yang kemudian mencoba mengejawenkan nasionalisme dengan corak yang berbeda dengan nasionalisme Barat (sosio-nasionalis). Menurut dia, nasionalisme yang sejati nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan; nasionalisme yang menerima rasa nasionalismenya itu sebagai suatu wahyu dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bukti. Bagi Soekarno, rasa cinta bangsa itu adalah lebar dan luas, dengan memberi tempat pada segenap suatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup. (Soekarno, 1964).

Sedikit dibalut atas nama agama, nasionalisme juga menjelma dengan istilah nasionalisme-religius. Konon negara-negara di Timur Tengah mengadopsi madel nasionalisme ini. penambahan istilah religius seolah selaras dengan ketentuan agama, padahal memiliki esensi yang sama.

Ikatan Nasionalisme

Syaikh Taqiyyudin an-Nabhani memaparkan alasan mengapa nasionalisme tidak mampu menjaga persatuan dan kesatuan. Pertama: kualitas ikatannya rendah. Ia tidak mampu mengikat manusia yang satu dengan manusia yang lainnya tatkala mewujudkan persatuan.

Kedua: ikatannya hanya bersifat emosional dan muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri, selain adanya peluang selalu berubah-ubah.

Ketiga: ikatan ini bersifat temporal, akan meningkat ketika ada ancaman dari luar, sebaliknya pada saat keadaan normal atau aman ikatan ini tidak berarti sama sekali (An-Nabhani, Nizham al-Islam).

Nasionalisme dalam Kacamata Islam

Secara syar’i, umat Islam diharamkan mengadopsi nasionalisme karena ia bertentangan dengan perinsip kesatuan umat yang diwajibkan oleh Islam. Kesatuan umat Islam wajib hanya didasarkan pada ikatan akidah, bukan ikatan kebangsaan, seperti nasionalisme. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara (TQS al-Hujurat: 10).

Ayat di atas menunjukkan behwa umat Islam adalah bersaudara, yang diikat oleh kesamaan akidah Islam (Ideologi), bukan oleh kesamaan bangsa. Rasulullah saw. bahkan mengharamkan ikatan ‘ashabiyah (fanatisme golongan), yaitu setiap ikatan pemersatu yang bertentangan dengan Islam, termasuk nasionalisme:

Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan ‘ashabiyah (fanatisme golongan) (HR Abu Dawud).

Dalam Piagam Madinah disebutkan kewajiban umat untuk menjadi satu kesatuan: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Muhammad Nabi saw. antara orang-orang Mukmin dan Muslim dari golongan Quraisy dan Yatsrib. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu, yang berbeda dengan umat lainnya.” (Sirah Ibnu Hisyam, II/119).

Pernah pada masa Rasulullah saw. salah seornag tokoh yahudi bernama Syas bin Qais –yang sangat benci dengan bersatuan dua suku besar penghuni Kota Madinah Aus dan Khazraj dalam ikatan Islam- membuat makar dengan mengirim seseorang penyair agar membacakan syair-syair Arab jahiliyah yang biasa mereka pakai dalam perang Buats. Penyair itu berhasil. Perasaan kebangsaan dan kepahlawanan kaum Aus maupun Khazraj intu memuncak hingga mereka lupa bahwa mereka sesama Muslim. Yang Aus merasa Aus dan yang Khazraj merasa Khazraj. Dalam puncak emosi menyulut perang itu mereka akhirnya berteriak-teriak. “Senjata-senjata”.

Pada saat genting itulah Rasulullah saw. datang dan melerai mereka. Rasulullah saw. lalu bersabda. “Wahai kaum Muslim, apakah karena seruan Jahiliah ini (kalian hendak berperang), padahal aku ada di tengah-tengah kalian, setelah Allah memberikan hidayah Islam kepada kalian. Dengan Islam itu Allah memuliakan kalian. Dengan Islam Allah memutuskan urusan kalian pada masa Jahiliyah. Dengan Islam Allah menyelamatkan kalian dari kekufuran. Dengan Islam itu pula Allah mempertautkan hati-hati kalian”. Serta merta kaum Anshar itu segera menyadari bahwa perpecahan mereka itu adalah dari setan dan tipuan kaum kafir sehingga mereka menangis dan berpelukan satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada Rasulullah saw. dengan senantiasa siap mendengar dan taat. (Sirah Ibnu Hisyam, I/555).

Penolakan Nasionalisme

Menurut an-Nabhani, nasionalisme tidak bertolak dari ide yang lahir melalui proses berfikir yang benar dan sadar. Maka dari itu, nasionalisme bukan ide yang layak untuk membangkitkan umat manusia. Sebab, dalam suatu kebangkitan, diperlukan suatu pemikiran yang menyeluruh tentang kehidupan, alam semesta, dan manusia, serta pemikiran tertentu tentang kehidupan  untuk memecahkan problem kehidupan. Kebangkitan umat Islam hanya bisa terjadi apabila didasarkan pada akidah Islam sebagai fikrah kulliyah (Nihzham al-Islam, 2001: 22).

Tidak hanya an-Nabhani, banyak ulama lain terkemuka yang juga menolak nasionalisme. Di antaranya adalah Muhammad Qutb yang mensejajarkan paham nasionalisme dengan komunisme dan sekularisme yang sama-sama betentangan dengan akidah Islam. Menurut beliau, paham-paham tersebut dapat membatalkan keislaman seseorang (Muhammad Qutb, Lailaha illallah ‘Aqidat[an] wa Syari’at[an], hlm. 140).

Abu A’la al Maududi, ulama asal Pakistan, juga menolak penggabungan Islam dengan nasionalisme. Menurut beliau, tidak mungkin seseorang menjadi Muslim nasionalis  karena kedua-duanya tidak mungkin bisa bertemu (Abu A’la Al Maududi, Ummah al-Islam wa Qadhiyah a-Qawmiyyah, hlm. 174).

Berdasarkan hal tersebut dapat difahami bahwa persatuan umat Islam berdasarkan akidah adalah wajib. Sebaliknya, perpecahan umat adalah haram. Sejalan dengan menjaga persatuan umat tersebut maka mempertahankan keutuhan wilayah umat Islam juga wajib. Karena itu separatisme adalah haram karena akan merobek keutuhan wilayah umat Islam tersebut.

Agenda di balik Nasionalisme

Sebagaimana disebutkan di atas, nasionalisme yang tubuh di Eropa telah melahirkan penjajahan yang menindas bangsa lain, khususnya Asia dan Afrika. Adapun negeri-negeri jajahannya mereka menghembuskan ide nasionalisme untuk memecah-belah negeri-negeri tersebut, karena keterpecahbelahan memudahkan bagi penjajah mereka (devide et impera). Kondisi umat Islam saat ini yang terpecah belah menjadi 70 negara merupakan salah satu ‘hasil’ penjajahan tersebut terhadap Khilafah Islamiyah yang dikerat-kerat berdasarkan nasionalisme menjadi negara-bangsa (nation-state).

Benih perpecahan tersebut dimulai sejak imperialis Barat menginfriltasikan racun nasionalisme ke dalam tubuh umat Islam melalui kegiatan kristenisasi dan missi zending. Mereka sebagian besar berasal dari Amerika, Ingris dan Prancis pada pertengahan abad ke 19 di Suriah dan Libanon. Melalui ide-ide nasionalisme itu, kaum misionaris menyulut sentimen kebencian terhadap negara Khilafah Ustmaniyah, yang mereka tuding sebagai negara penjajah bagi negeri-negeri di sekitarnya. Mereka kemudian meniupkan nasionalisme di Arab saudi, Mesir, Libanon, Suriah, dan sebagainya untuk melakukan perlawanan terhadap Khilafah Ustmaniyah.

Perjanjian Syeks-Picot (1915) yang membagi-bagi wilayah khilafah Ustmaniyah pada tangan penjajah merupakan bukti ‘keampuhan’ ide nasionalisme dalam memecah belah kaum Muslim dan menghancurkan Khilafah (Lihat: Abdul Qadim Zallum, Kaifah Hudimat al-Khilafah, 1990).

Pasca runtuhnya Khilafah mereka kemudian merancang payung nasionalisme yang permanen, yaitu Liga Arab. Lembaga ini merupakan perpanjangan tangan dari nasionalisme Arab yang telah meruntuhkan Khilafah Ustmaniyah. Kepentingan utama Barat dalam Liga ini adalah sebagai penopang penyebaran paham nasionalisme di wilayah Timur Tengah untuk mencegah bangkitnya kembali Khilafah. Pendirian Liga ini dilakukan oleh Antonie Adien, Menlu Britania, pada 22 Maret 1945, di Kairo yang beranggotakan Mesir, Saudi Arabia, Libanon, Suriah, Irak, Yordania, dan Yaman.

Upaya Barat (AS, Eropa, dan sekutunya) untuk melemahkan negeri-negeri Islam melalui isu nasionalisme dan separatisme terus dihembuskan hingga saat ini. apa yang terjadi di Sudan, Bangladesh  hingga kasus Timor Timur menunjukkan hal tersebut. Mereka terus berupaya mencerai beraikan negeri-negeri Islam melalui gerakan separatisme tersebut dengan kedok penentuan nasib (right of self determinism) yang dilegetimasi PBB.

Hingga detik ini, isu separatisme di Papua terus digulirkan oleh Barat, khususnya AS. Selain sejalan dengan upaya mereka untuk melemahkan negeri Muslim, juga sejalan dengan upaya mereka merenggut kekayaan dari bumi Papua melalui Freeport. Beberapa waktu lalu beredar berita terkait separatisme Papua tersebut di Australia. Berita yang dipublikasikan jaringan media Fairfax dan The Canberra Times (13/8/2011) itu menyebutkan tentang laporan rahasia mengenai kelompok separatis Papua. Laporan yang bertajuk Anatomy of Papuan Separatis itu mengungkapkan sejumlah nama politisi, akademisi, wartawan, pekerja sosial dan pemimpin agama dari seluruh dunia yang menyokong gerakan separatisme di Papua. Di antara mereka ada senator Partai Demokrat AS Dianne Feinstein, Uskup Agung Desmod Tutu, anggota parlemen Inggris dari Partai Buruh Andrew Smith serta mantan pemimpin Papua Nugini Michael Somare.

Semua itu menjelaskan satu hal, bahwa ide nasionalisme dan separatisme merupakan agenda asing untuk melemahkan umat Islam dengan cara memecah belah dan menjauhkannya dari persatuan. Sebab, persatuan umat Islam dan penyatuan wilayah negeri-negeri Islam bisa menjadi mimpi buruk bagi Barat sang penjajah.

 

Dampak Buruk Nasionalisme

Pertama: Memecah belah umat. Barat menyadari betul, selama umat Islam bersatu dengan ikatan akidah Islam dan tersemai dalam institusi pemersatu umat, yaitu Khilafah Islamiyah, maka kaum muslim tetap kuat. Mereka tau jika Islam bersatu maka Islam tak bisa dikalahkan. Karena itu mereka begitu massif menyebarkan pemikiran-pemikiran berbisa –salah satunya nasionalisme-, dalam rangka terus menerus merongrong kekuatan umat Islam.

unduhan

Demonstari “Ganyang Malaysia”

Kedua: Menyuburkan berbagai konflik. Akibat paham nasionalisme diemban oleh kaum Muslim, Negara Islam sebelumnya bernaung di bawah panji tauhid Khilafah Islamiyah akhirnya dipecah-pecah menjadi sekitar 70 negeri-negeri kecil yang satu sama lain saling bersengketa. Negara serumpun Indonesia-Malaysia sejak 1961 tak luput dari sengketa. Semua itu berakar dari perebutan wilayah teritorial hingga tema kebudayaan. Berawal dari rebutan wilayah Serawak atau sabah, Kalimantan, pama masa kini terus merembet dengan saling klaim kepemilikan tari pendet, angklung, keris, reog ponorogo, kain batik, lagu kebangsaan, hingga masalah kedaulatan Ambalat. Ajakan “ganyang Malaysia” pun terus bergulir di Tanah Air.

unduhan (6)

Organisasi Papua Merdeka

Ketiga: Memunculkan disintegrasi. Selain mengakibatkan pecahnya negara-negara di Timur Tengah, nasionalisme juga tidak mampu mencegah adanya ancaman disintegrasi, seperti halnya di Indonesia. Ancaman terjadi sejak pasca Kemerdekaan hingga sekarang. Pada tahun 1948, misalnya, sebuah konflik kekerasan terjadi di jawa timur. Peristiwa ini diawali dengan adanya proklamasi negara Soviet Republik Indonesia oleh PKI. Di Sumatra sekitar tahun 1950-an muncul pula gerakan separatis PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) pimpinan kolonel Ahmad Husen. Di Sulawesi ada PERMESTA (Piagam Perjuangan Rakyat Semesta) pimpinan D.J Somba dan Kolonel Samual.

Keempat: melemahkan umat. Nasionalisme terbukti menghilangkan kepedulian umat sehingga kaum Muslim menjadi lemah. Negeri-negeri Islam menjadi santapan empuk

wilayah umat Muslim dalam naungan khilafah

wilayah umat Muslim dalam naungan khilafah

bangsa-bangsa Imperialis. Namun, mereka menghadapi persoalan itu hanya dengan sendiri-sendiri. Kesadaran bahwa umat Islam itu ibarat satu tubuh pun telah meluntur. Padahal persaudaraan mereka berjumlah lebih dari satu milyar manusia.

Nasionalisme inilah yang menyebabkan Palestina terus dinistakan oleh bangsa zionis Israel. Kaum zionis tau, sistem nation-state yang diterapkan di negeri-negeri Muslim adalah benteng penghalang umat Islam untuk membantu saudaranya.

Kekejaman Tentara Israel Terhadap Penduduk Palestina

Kekejaman Tentara Israel Terhadap Penduduk Palestina

Penyatuan Umat Islam

Sebagai wujud persatuan seluruh umat Islam, Islam mewajibkan umatnya untuk hidup di bawah datu kepemimpinan atau negara, yakni Khilafah Islamiyah. Haram bagi mereka tercerai berai di bawah kepemimpinan yang lebih dari satu. Rasulullah saw. bersabda:

Jika dibaiat dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya (HR Muslim).

Rasulullah saw. juga bersabda:

Siapa saja yang datang kepada kalian, sedangkan urusan kaliah terhimpun pada satu rang laki-laki (seorang khalifah), lalu dia (orang yang datang itu) hendak memecah kesatuan kalian dan mencerai-beraikan jamaah kalian, maka bunuhlah dia (HR. Muslim).

Nas hadis di atas dengan jelas menunjukkan adanya kewajiban untuk bersatu di bawah satu negara: Khilafah. Tidak debunarkan umat memiliki lebih dari seorang Khalifah (imam). Terkait dengan hal tersebut, Abdurrahman al-Jaziri menjelaskan pendirian empat Imam Mazhab sebagai berikut,

“Para Imam (Abu Hanifah, Malik, Syafii dan Ahmad) rahimahumullah bersepakat bahwa umat Islam tidak boleh pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua orang Imam (Khalifah), baik keduanya sepakat maupun bertentangan.” (Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, V/308).

Berdasarkan hadis tersebut serta fakta Khilafah Islamiyah yang berjalan selama 14 abad, Imam Taqiyyuddin an-Nabhani mendefinisikan Khilafah sebagai kepemimpinan umat bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia (Abdul Qadim Zallum, Nizham al-Hukmi fi al-Islam, 2002:34).

Dari definisi ini, Khilafah adalah hanya satu untuk seluruh dinia karena nas-nas syariah memang menunjukkan kewajiban umat Islam untuk bersatu dalam satu istitusi negara. Menurut Abdul Qadim Audah, Islam menjadikan kaum Muslim sebagai umat yang satu; menyatukan mereka dalam satu negara; memberikan satu imam bagi mereka guna memerintah negara yang satu; dan umat yang satu tersebut bertugas menegakkan Islam dan mengendalikan berbagai urusannya dalam batas-batas yang ditetapkan oleh Islam (Abdul Qodim Audah, Al-Islam wa Awdha’unah as-Siyasiyah, 1981: 278).

Dengan demikian substansi dari ide Khilafah yang wajib diperjuangkan oleh umat Islam adalah terwujudnya kehidupan Islam yang dicirikan dua hal pokok. Pertama: kehidupan yang didalamnya diterapkan syariat Islam dalam seluruh sendi kehidupan, baik kehidupan pribadi, keluarga maupun kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang menyangkut aspek ibadah, makanan, minuman, pakaian, akhlak maupun muamalat serta ‘uqubat. Kedua: bersatunya kembali umat Islam yang kini bercerai berai dalam lebih dari 70 negara ke dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah dengan seorang Khalifah sebagai pemimpinnya.

Referensi: al-Wa’ie

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s